Papua dan Rupiah #CintaRupiah

Papua dan Rupiah #CintaRupiah

Cinta Rupiah –  Sebagai alat pembayaran yang sah, uang memegang peranan yang sangat penting di dalam segala sendi kehidupan bermasyarakat. Tanpa uang, kita tidak akan bisa membeli barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. Kalau zaman dahulu orang mendapatkan barang-barang dengan sistem barter, sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi.

Uang terdiri dari dua jenis, yaitu uang logam dan kertas. Biasanya uang kertas lebih diminati dari pada uang logam karena saat ini uang kertas memiliki nilai nominal lebih besar dibanding uang logam.

Nilai Uang Dalam Kehidupan Masyarakat Papua

Bagi masyarakat Papua, uang rupiah jenis logam sudah tidak berlaku lagi, walaupun Bank Indonesia menegaskan bahwa uang logam masih merupakan alat pembayaran yang sah. Hal ini dikarenakan harga jual barang-barang kebutuhan di Papua cukup tinggi.

Sebagai contoh, sayuran satu ikat kecil, tempe tiga potong, tahu 2 potong, dan tomat buah empat biji masing-masing harganya Rp5.000,00. Hanya cukup untuk makan satu kali saja. Belum lagi dengan cabainya, lima ribu rupiah hanya dapat cabai lima biji.

Mahalnya harga sayur-sayuran tersebut dikarenakan para pedagang harus membeli dari petani sayuran di luar Papua seperti Makassar dan Manado dengan menggunakan pesawat. Itu hanya contoh kasus di Kota Timika, bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau pegunungan?

Akibat kondisi geografis Papua yang sulit, membuat masyarakat pedalaman dan pegunungan harus rela mengeluarkan biaya ekstra, agar bisa menumpang pesawat kecil jenis Cessna untuk membeli bahan-bahan kebutuhan pokok di kota terdekat.

Jadi wajar, kalau bagi mereka uang logam terasa tidak berharga. Bahkan di supermarket-supermarket besar saja masih menerapkan uang kembalian memakai permen, meskipun jelas-jelas hal itu dilarang oleh Bank Indonesia.

Di Papua, mata uang rupiah pecahan kecil jenis logam hanya menjadi mainan. Bahkan anak-anak Papua saja tidak tertarik menyimpan uang logam tersebut. Sungguh kenyataan yang sangat menyedihkan.

Tetapi setidaknya bagi anak-anak pendatang, uang logam masih berguna masuk ke dalam celengan karena bisa digunakan ketika pulang kampung saat liburan.

Bagaimanapun, kita harus mencintai rupiah dan memperlakukannya dengan baik, sebagai salah satu wujud bela negara kepada Indonesia tercinta.

 

foto trekpapua

(Visited 39 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *